Pandemi Merubah Perilaku Cara Berinvestasi Sebagian Masyarakat

Sejak pandemi Covid -19 hadir tiga tahun silam telah mendorong  perubahan perilaku dan cara berinvestasi sebagian besar masyarakat. Hal ini ditopang pula dengan kemunculan beragam jenis investasi berbasis online yang semakin memudahkan orang untuk mendapatkan keuntungan di manapun dan kapanpun hanya dengan bemodalkan ponsel pintar.

Pandemi Merubah Perilaku Cara Berinvestasi Sebagian Masyarakat
Pandemi Merubah Perilaku Cara Berinvestasi Sebagian Masyarakat

AGROPOLITAN.TV - Sejak pandemi Covid -19 hadir tiga tahun silam telah mendorong perubahan perilaku dan cara berinvestasi sebagian besar masyarakat. Hal ini ditopang pula dengan kemunculan beragam jenis investasi berbasis online yang semakin memudahkan orang untuk mendapatkan keuntungan di manapun dan kapanpun hanya dengan bemodalkan ponsel pintar.

Melihat fenomena ini, PT Bestprofit Futures Malang bersama dengan PT Bursa Berjangka Jakarta, PT Kliring Berjangka Indonesia (Persero) dan Universitas Brawijaya menggelar Investment Outlook 2022, Pilihan Cerdas Investasi di Era New Normal.

Pimpinan Cabang PT Bestprofit Futures Malang, Andri mengatakan bahwa saat ini pilihan investasi semakin beragam. Terutama di era new normal di masa pandemi, banyak pergeseran investasi konvensional menjadi online dan jenis investasi baru mulai hadir.

Menurut Andri yang tepat sebelum memutuskan instrumen investasi yang tepat, kita harus tahu tujuan dan target jangka waktu yang kita inginkan untuk mendapatkan return dari portfolio investasi yang kita tempatkan. Sebagai contoh, properti, dan obligasi, merupakan investasi yang menjanjikan dari sisi return, namun bersifat jangka panjang.

Sementara jika ingin mendapatkan return yang positif dan bersifat likuid, maka Perdagangan Berjangka bisa menjadi pilihan alternatif. Terutama untuk produk emas. Terbukti di mulai sejak tahun 2020 ketika Covid-19 awal-awal melanda, harga emas langsung mencuat. Bahkan hingga menyentuh harga hampir Rp 2 juta/gr atau $ 1.970/toz.

Sementara Direktur Utama PT Bursa Berjangka Jakarta, Stephanus Paulus Lumintang menjelaskan, akibat Covid-19 melanda telah terjadi perubahan radikal dalam kehidupan dan perputaran ekonomi sehingga dibutuhkan fleksibilitas dalam segala hal.

Di tahun 2022, Pemerintah Republik Indonesia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi sekitar 5,8%-5,9%. Tingkat optimisme ini karena terjadi super cylce commodity. Sejak akhir 2021, sejumlah harga komoditi mengalami lonjakan harga seperti CPO, Kopi, Kakao dan komoditi lainnya. Hal ini berimbas positif terhadap return pada kontrak komoditi di pasar bursa berjangka,

Ekonom Universitas Brawijaya, Wildan Syafitri mengatakan bahwa faktor kenaikkan harga komoditas saat ini disebabkan oleh suply chain yang mengalami penurunan. Dengan tren peningkatan harga tersebut mendorong terjadinya volatilitas yang membuat nilai perdagangan kontrak berjangka komoditi semakin menarik di bursa berjangka. Adapun faktor yang mempengaruhi Bursa Berjangka antara lain Consumer Confidence Index, Consumer Price Index, Stock Market Index, Suku bunga, money supply dan gross domestic product,

Direktur Utama PT Kliring Berjangka Indonesia (Persero), Fajar Wibhiyadi mengatakan, saat ini masyarakat dihadapkan pada berbagai peluang investasi yang cukup menjanjikam dengan transaksi yang semakin mudah dan cepat. Namun demikian, masyarakat juga harus menjadi investor yang cerdas dengan memilih perusahaan investasi yang legal dan terdaftar di badan pengawas pemerintah.

Saiful Akbar ATV