Padanan kata ‘appetizer’

Padanan kata ‘appetizer’

Apa kamu tahu umpan tekak? Jika tidak, tidak perlu berkecil hati. Padanan kata appetizer tersebut memang sangat jarang digunakan. Itu terbukti atas tanggapan netizen ketika Narabahasa mengunggah kiriman berisi padanan dalam bidang kuliner pada 18 April 2021. Sebagian besar dari mereka merasa asing dengan umpan tekak dan lebih akrab dengan hidangan pembuka. Padahal, KBBI V sudah mencatatnya dengan makna ‘makanan atau minuman lezat dalam porsi kecil sebagai pembangkit selera yang dihidangkan sebelum makan; pembangkit selera makan’. Sebaliknya, hidangan pembuka justru tidak tercatat. Padahal, kita tahu bahwa KBBI adalah kamus besar. Ia mencatat kata atau istilah yang hidup dalam masyarakat. Dengan demikian, umpan tekak merupakan sebuah keanomalian.

Apakah perasaan asing netizen terhadap umpan tekak merupakan sesuatu yang wajar? Untuk menjawab pertanyaan itu, saya coba mencari istilah tersebut pada platform Google Trends, penampil statistik suatu topik pada waktu tertentu. Lantas, benar saja, hasilnya nihil. Sementara itu, hidangan pembuka memiliki grafik naik turun yang berarti istilah tersebut digunakan.

Keasingan netizen terhadap umpan tekak mungkin sama ketika mereka baru mengetahui bahwa padanan subtitle (film) adalah ‘takarir’. Biasanya, takarir juga dijadikan padanan dari caption. Kita mengenal caption pada ranah media sosial.

Menariknya, menurut Google Trends, istilah takarir baru muncul pada Mei 2012. Sementara itu, pesaingnya, yakni subtitel, muncul terlebih dahulu pada Maret 2008. Bahkan, Holy Adib melalui tulisannya yang berjudul “Subtitel” menjelaskan bahwa subtitel sudah lama digunakan dalam sinematografi di Indonesia. Ia mengacu pada penggunaan istilah tersebut oleh Asrul Sani dalam Cara Menilai Sebuah Film pada 1986, sebuah buku terjemahan dari The Art of Watching Films karya Joseph M. Boggs.

Meskipun begitu, subtitel belum tercatat dalam KBBI V. Menurut Adib, istilah tersebut sebenarnya layak dimasukkan ke sana. Ada empat alasan yang melatarbelakanginya, yaitu (1) sering dipakai, (2) lafal dan ejaannya sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia, (3) sudah lama digunakan—sebagaimana dijelaskan pada paragraf di atas, dan (4) populer.

Lantas, bagaimana menyikapi keberadaan istilah-istilah di atas? Menurut saya, jalan tengahnya adalah dengan menganggap semua itu sebagai kekayaaan dalam kosakata bahasa Indonesia. Soal ada yang digunakan atau tidak, itu tergantung keberterimaan penutur saja. Yang jelas, tiap penutur harus memiliki alasan penggunaan suatu istilah. Terlebih, pada bagian akhir “Kata Pengantar Edisi Ketiga” Pedoman Umum Pembentukan Istilah, Dendy Sugono menyatakan, “… masyarakat dapat menciptakan istilah sendiri berdasarkan tata cara pembentukan istilah yang dimuat dalam buku pedoman ini.” Di samping itu, dalam pembentukan—serta pemilihan—istilah, masyarakat juga perlu memperhatikan syarat-syarat istilah yang baik, yaitu (1) tepat makna, (2) singkat, (3) berkonotasi baik, (4) eufonik (sedap didengar), dan (5) sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia.

Jadi, kita sekarang sudah tahu, ya, cara memperlakukan umpan tekak. Semoga kita tidak mengganti istilah asing dengan yang lebih asing.


Rujukan :

  • Adib, Holy. 2021. Perca-Perca Bahasa: Kumpulan Esai. Yogyakarta: DIVA Press.
  • Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional. 2007. Pedoman Umum Pembentukan Istilah: Edisi Ketiga. Cet. IV.
  • Harrits Rizqi, https://narabahasa.id/linguistik-umum/mengganti-istilah-asing-dengan-yang-lebih-asing