Meski Pandemi Geliat Bisnis Tanaman Hias Bisa Tembus Pasar Ekspor

Meski pandemi dan terdampak PPKM, aktivitas bertani atau budidaya tanaman hias saat ini sedang menjadi tren di kalangan masyarakat. Banyak yang memilih mengisi waktu luang di tengah pandemi dengan merawat tanaman hias. Namun, tak sekadar hobi, ada pula yang menjadikan budidaya tanaman hias sebagai ladang bisnis. Seperti halnya di Kota Batu, beberapa jenis bunga hias yang di produksi petani, mampu menembus pasar dalam dan luar negeri.

Meski Pandemi Geliat Bisnis Tanaman Hias Bisa Tembus Pasar Ekspor
Meski Pandemi Geliat Bisnis Tanaman Hias Bisa Tembus Pasar Ekspor

AGROPOLITAN.TV - Meski secara umum terdampak pandemi Covid-19 berkepanjangan, dan ditambah sejumlah pembatasan kegiatan Ppkm. Namun bisnis tanaman hias di Kota Batu berkibar di tengah pandemi Covid-19.baik petani atau pedagang dapat meraih keuntungan hingga puluhan juta rupiah setiap bulannya.

Banyaknya permintaan dari dalam negeri maupun luar negeri membuat harga tanaman pun berubah.jika biasanya tanaman hias berupa bibit seharga 10 ribu sampai 20 ribu, kini bisa naik mencapai 500 persen.

Tak pelak minimal keuntungan Rp 10 juta hingga Rp 30 juta pun bisa mereka kantongi. Imbas dari perubahan harga membuat petani atau pedagang untung berkali-kali lipat.

LIHAT VIDEO BERITA DI SINI

Namun, harga tersebut hanya berlaku terhadap beberapa jenis tanaman hias. Terutama jenis anthurium spesies seperti veitchii, faustinomirandae, selendang, hingga jenis kuping gajah seperti lidah gajah, karet, buta dan lainnya.

Kemudian jenis philodendron misalnya monstera, kabel busi, janda bolong, sudiroi, melano, florida ghost, dan banyak lagi. Selanjutnya jenis sansevieria trifasciata contohnya california, golden wendys, green mould variegata, dan lain-lain.

Terlebih jika tanaman tersebut adalah variegata atau memiliki kelainan pigmen warna daun, yang semula hijau biasa namun  memiliki corak warna putih atau kuningnya. Harga untuk tanaman variegata ini bisa naik mencapai 50 kali lipat untuk semua jenis.

Salah satu petani tanaman hias asal Sidomulyo, Kota Batu, Juni Purnomo menyampaikan,  semua tanaman pasti mengalami perubahan harga, disebabkan stok semakin menipis di Kota Batu, bahkan di Indonesia. Hukum dagang pun berlaku, saat banyak permintaan stok barang menipis harga pun naik tajam.

Juni Purnomo yang juga menjabat sebagai ketua Jaringan Petani Nasional (JPN) Kota Batu mengaku optimis harga tak mungkin bisa turun karena semua tanaman tersebut dikirim ke mancanegara seperti Amerika, Kanada, Rusia, Belanda, Jerman, Jepang, dan banyak negara lainnya.

Untuk pemasaran, Juni selain memanfaatkan media sosial seperti facebook dan instagram,jejaring pertemanan juga sangat berpengaruh dalam penjualan. Terkadang, pembeli mendatangi tempat secara langsung.

Meski demikian, Juni Purnomo juga mengaku petani tanaman hias yang ada di Kota Batu kuwalahan layani permintaan luar negeri yang mencapai 2.000 pohon setiap bulannya. Kendala yang dirasakan yaitu petani di sini masih mengandalkan metode perbanyakan secara manual. Kendala itu membuat para petani atau pemulia tanaman hias tidak mampu mendukung percepatan ekspor karena stok tidak mencukupi.

Juni berharap pemerintah daerah maupun pusat bisa memberikan perhatian lebih. Perhatian tersebut bisa berupa pelatihan untuk meningkatkan SDM maupun memfasilitasi sarana prasarana contohnya laboratorium kultur jaringan. Agar petani di Indonesia bisa bersaing dengan petani luar negeri.

Ary Punka Aji ATV